So, here I am. Start everything all over again, since I know there will always be a new page to open. But it’s more than just pages, because it is a bulky-thick book called “Bandung”. Surely a name worth thousand story of mistakes, choices, achievements, home. Then here comes the time when I really need to shut it and move on, along with those memories behind, yet the people in it. There are promises not yet to be fullfilled but 125 km isn’t that far. So let me do something real here, let me start something here, and there will be times when I’m tired so I can see you again. Thanks for the last five bold years.

“What you want to focus on is that when the big players go, which has happened to us many times, you just want to get around it and try to find a new organisation that is efficient.

It took us a while to find a different way because the game went through him a lot. We had to find a new balance between defending and attacking but now we are stabilized.

We are in a job where you want to do two things: do you best you can for your club and influence in a positive way the life of people. On that side, I think that Arsenal had a positive impact on the life and career of Robin van Persie so we have done our job in a positive way.”

-Arsene Wenger (before a big clash this very Sunday on Emirates against you-know-who)

image

(Bolanews/Getty Images)

It’s almost a season since last summer he’s gone to a fierce rival in Manchester. But yet The Dutchman shows how he already made a big impact to Gunners’ Fans. The “Guard of Honor” is awaiting for him and his new team, so..well, Welcome Back To Your Former-Team-Which-Made-You-From-Nothing-To-Something Robin! 

Munich 4 - Catalunya 0 ; The Revival of Staying Power, The Fall of Tiki Taka?

image

Allianz Arena, kurang dari 24 jam yang lalu, jadi saksi merananya sebuah ideologi sepakbola yang begitu dominan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Judul tulisan ini mungkin terlalu rumit, panjang, pun berlebihan. Tapi mengingat Barcelona terakhir kali dipermalukan hingga empat gol tanpa balas adalah pada 2005 maka hal ini tentu mengundang banyak hal untuk dibahas.

Munich menunjukkan bahwa Staying Power ala Bavaria dengan sentuhan pop ala Hollywood masih belum usang untuk berjaya di Benua Biru. Setelah sempat gagal juara di hadapan pendukungnya sendiri medio tahun lalu, Jupp Heynckess nampak paham betul bagaimana memoles kembali timnya menjadi lebih padu dan tangguh baik secara teknis maupun mental. Kemenangan gemilang 4-0 atas Barcelona semalam rasanya pantas dilabeli sebagai akumulasi dan showcase akan betapa siap berjayanya mereka di musim ini. Terlepas dari faktor Messi yang dipaksakan bermain dan perjudian dalam memasang Marc Bartra, saya lebih tertarik membahas apa saja kunci keberhasilan Munich dalam meredam Barca, menurut pengamatan dan opini pribadi. Berikut adalah faktor-faktor tersebut :

1. Ball-playing Centre Back

Banyak yang berpendapat jika salah satu faktor kesuksesan Barca dalam menerapkan penggabungan Tiki Taka dan Total Football dalam permainannya adalah bagaimana mereka melakukan pressing ketika kehilangan bola. Barca akan langsung menekan bahkan jika itu masih berada pada sepertiga area kotak penalti lawan. Dalam kasus ini, dibutuhkan barisan defender yang memiliki ketenangan dan olah bola yang baik agar dapat lolos dari pressing ketat para pemain Barca untuk kemudian meneruskan bola ke lini di depannya. Plus, dibutuhkan juga seorang penjaga gawang bermental baja yang punya kemampuan mendistribusi bola dengan baik. Muenchen beruntung mereka merekrut Dante pada awal musim ini, yang notabene adalah seorang tipikal bek tengah modern Brazil dengan teknik dan dribbling diatas rata-rata centre back pada umumnya. Duet Dante dalam pertandingan semalam adalah Jerome Boateng, yang juga fasih bermain sebagai full back dan juga memiliki olah bola cukup baik. Dua centre back ini-ditopang Manuel Neuer-begitu lugas mengawal lini belakang sekaligus juga tenang saat memainkan bola di sepertiga area sendiri.

2. Aggressive Flanks : Offensive Full Back, Defensive Winger

Sebenarnya, saat menghadapi Barcelona, setiap manajer mungkin harus memberi strategi spesifik pada setiap pemainnya untuk melakukan display permainan yang biasanya tidak lazim dengan gaya permainan para pemain tersebut. Begitu pula mungkin Munich semalam. Tapi yang paling kentara adalah bagaimana dua kekuatan utama Munich dalam penetrasi, yaitu Robben dan Ribery, sangat rajin dan tak kenal lelah turun hingga jauh ke dalam pertahanan sendiri guna  membantu dua full back dalam melakukan closing down area yang diisi para pemain Barca. Ini jelas sebuah pemandangan yang tidak familiar mengingat gaya bermain Ribery dan Robben yang cenderung “pemalas” ketika timnya kehilangan bola. Kredit khusus pun pantas diberikan kepada Philip Lahm dan David Alaba. Keduanya sangat disiplin menjaga areanya namun tetap berani melakukan overlap untuk memberikan sokongan-sokongan umpan diagonal yang menjadi salah satu kelemahan lini belakang Barca saat menghadapi serangan balik.

3. Twin Double-Pivot Defensive Midfielder

Tanpa mengecilkan lini lain dan faktor-faktor penting lainnya, dapat dikatakan lini ini lah yang menjadi paling vital dalam memenangkan duel dan mematikan kreatifitas lini tengah Barca sekaligus menyokong para gelandang serang di depannya. Lagi-lagi Munich melakukan perekrutan tepat dengan mendatangkan Javi Martinez. Banderol hingga 40 juta Euro rasanya sepadan jika menilik kinerjanya pada pertandingan semalam. Pengalamannya selama 6 musim di La Liga bersama Bilbao tentu menjadi sebuah advantage saat bermain melawan Barca. Tekel bersihnya yang 6 kali sukses dari 6 attempts dengan sederhana menunjukkan bahwa statistik ini adalah bukti konkret besarnya pengaruh gelandang bertahan berkebangsaan Spanyol yang juga mampu bermain sebagai bek tengah ini. Permainan Javi Martinez sejatinya serupa dengan Schweinsteiger, namun Javi memiliki kelebihan dalam marking, memutus serangan, dan membaca trajectory passing-dimana hal ini sangat penting untuk mematikan kreatifitas Xavi ataupun agresivitas Messi. Dengan kemampuan seperti itu, Schweini tidak terlalu terbagi fokusnya untuk mati-matian ikut merebut bola dan pada akhirnya mampu bermain lebih nyaman sebagai pembagi bola atau regista dengan bebas. 

4. The Shadow : Thomas Mueller

Tidak bermainnya Toni Kroos dengan alasan tertentu menjadi berkah bagi Mueller. Tapi saya meyakini bahkan jika Kroos siap dimainkan pun Jupp Heynckess akan tetap memilih Thomas Mueller sebagai striker bayangan di belakang penyerang tunggal. Bukan tanpa sebab, Kroos memang memiliki visi lebih baik, namun menghadapi Barca tipe pemain ekplosif dan bisa muncul secara tak terduga lah yang akan lebih dibutuhkan. Atribut ini jelas lebih dimiliki oleh Mueller yang punya intelejensia tinggi dalam hal positioning untuk muncul secara tak terduga sebagai shock element. Mario Gomez yang bermain sejak menit pertama seakan memuluskan strategi ini. Mario yang bertipikal striker target man klasik dengan cerdik menjadi decoy dan membuat pergerakan Mueller yang berada di belakangnya menjadi begitu bebas, liar, dan tak terdeteksi. Hasilnya 2 gol dan 1 assist menjadi bukti sahih. Terlepas dari terlibatnya ia dalam satu dari dua gol kontroversial Muenchen, saya rasa Mueller lah yang layak didapuk menjadi Man Of The Match pada laga ini. 

Masih ada leg 2 di Camp Nou, dan segalanya bisa saja terjadi. Jika menengok kegagalan Milan mungkin Barca akan tetap optimis. Namun jika melihat keberhasilan menekuk Juventus di Juventus Stadium rasanya wajar jika Muenchen sudah mulai berpikir tentang Wembley. Musim pun masih jauh dari selesai bagi Muenchen yang menargetkan treble. Jika konsistensi dan intensitas seperti partai semalam dapat terus terjaga, bukan tak mungkin Jupp Heynckess akan menorehkan suatu kebanggaan pada musim terakhir dalam karir kepelatihannya. Makna besar lain yang bisa dilihat dari semifinal ini adalah sebuah prediksi akan semakin kuatnya rivalitas Jerman-Spanyol dalam perebutan Piala Dunia tahun depan di Brazil. Selain tentu saja untuk tak sabar menunggu Bayern Munich yang lebih dahsyat pada musim depan dengan kedatangan Pep Guardiola yang alih alih belum melatih namun berhasil “memulangkan” sang wonderkid Mario Goetze ke kota asalnya. Tahun-tahun cerah nampaknya akan terhampar bagi publik Bavarians dan publik Jerman. Layak ditunggu.

(image source : mirror.co.uk)

”..being a Designer. So? just make designs, make it a lot, make it great, and happiness will come. It priced high. No, my friend, no, it is priceless and you can’t take this happiness from us.”  -anonymous

We all will die, eventually. Living a life-which is not all of us live in our very dream-to achieve something that could satisfying and maybe crazy enough to finally arrive at the next phase : afterlife. Talk about afterlife, lately I got little more concerned about this. Hopefully, in time as I grow older this concern would grow bigger. Aamiin. Yea, cliche it is, but I’ve always been grateful for every precious reminding moment like this.

siangmalam:

:’)
cjwho:

Ira Glass Quote Poster by Nikki Hampson
Ordered.

siangmalam:

:’)

cjwho:

Ira Glass Quote Poster by Nikki Hampson

Ordered.

Car. There’s no just car as a transportation vehicle, it’s always more. We talk about something more influential. Here, in my so beloved country with so much advertising victim, car has been taken too much meaning ever since. You buy car means you buy a new lifestyle and give yourself a new price and position among the society. If you able to buy a car it could be a milestone of your life. This could be true but couldn’t be right, for some reasons. I suppose we don’t need to talk any further about how severe the condition of the traffic because of the number of vehicle population or how environmental has been threatened by this transportation mode. In fact people become worst, day by day they feel encouraged to buy a car. I believe that people should have what they really need not because it is what they want. Or more frightening, they feel that they “need” to buy it because the people around them like force to do so. If only these kind of people would comprehend this so the society won’t “kill” them. Car, it’s not always been about car, always more and always will be.

I think, there are two kind of mirrors.

First one is the mirror that tell you how good your look, that tell you how handsome or pretty you are. This kind of mirror like always successfully lie, for instance, through a fake fact that you are thinner but (maybe) actually you are fat. Good news is this mirror would be very helpful when you’re drowning in the lowest confidence level.

Second is the kind of mirror that tell you as what you are. In a simple fierce word : if you’re ugly then it is what you are. Cruel mirror yes they are. But if I have to choose so I’ll choose the second mirror. Even if the question come up in a great preparation to a great date in a great Saturday evening.  Because the truthful mirror will always be good to tell you what you are. To tell you how awful you are, then finally you’ll know where you at, and be graceful for what you have now.

Gundah Gulana (Seorang) Pendukung Arsenal

Probabilitas yang begitu besar akan ketersingkiran Arsenal di tangan Bayern Munich di Liga Champions, pastilah menorehkan rasa sakit yang dalam bagi para pendukung Arsenal. Kalau sampai kalah atau seri atau tidak menang telak, kepastian mereka akan kembali hampa juara harus mereka terima. Dan musim paceklik juara untuk Arsenal akan semakin panjang: delapan musim.

Rasa sakit itu semakin menghunjam kalau mengingat untuk kompetisi domestik saja mereka kini tidak lagi ditakuti. Tidak di Piala Liga, tidak di Piala FA, tidak pula di Premier League. Bukan berarti Arsenal lalu menjadi klub medioker, tetapi kalau tidak hati-hati kemungkinan itulah yang dikhawatirkan pendukungnya.

Untuk klub sesukses Arsenal hal ini jelas sulit diterima. Apalagi Arsenal di bawah asuhan Arsene Wenger. Suka atau tidak dengan Arsenal (atau Arsene Wenger), klub ini sejak Wenger menjadi manajernya tahun 1996 menjadi salah satu barometer permainan bola yang cantik di Inggris. Bukan sekadar bermain cantik tetapi sukses mendulang prestasi. Hingga tahun 2005 mereka meraih 11 piala domestik dan sekali masuk ke final Liga Champions Eropa tahun 2006 ketika kalah dari Barcelona. Bukan catatan yang jelek.

Bolehlah orang mencibir mereka belum tembus Eropa. Tetapi menjadi raja kompetisi domestik juga bukan persoalan mudah. Dibutuhkan konsistensi yang luar biasa sepanjang tahun. Ingatlah ketika mereka mencetak sejarah sebagai klub pertama dalam sejarah Liga Primer Inggris yang tidak terkalahkan sepanjang kompetisi liga tahun 2003/2004. Karenanya, “The Invincible (Tak Terkalahkan),” teriak pendukungnya saat itu. “In Arsene we trust (kita percaya sepenuhnya pada Arsene)!,” ujar mereka dengan kekhidmatan layaknya umat.

Tetapi jangan pernah memasrahkan hidup anda pada penggemar bola. Mereka ini salah satu kelompok manusia paling susah dipercaya. Mereka yang meneriakkan The Invincible dan In Arsene we trust adalah mereka pula yang sekarang paling keras menggerutu agar Arsene Wenger mundur. Tentu ada pula yang menyalahkan para direktur badan perusahaan sepakbola Arsenal yang dianggap hanya memikirkan keuntungan keuangan bukan prestasi. Tetapi sebagian besar tetap menyalahkan Wenger, “ide permainannya ketinggalan jaman, keras kepala, tak punya ambisi, tidak bisa melihat bakat,” dan sekian macam atribut tak mengenakkan diarahkan kepada manajer asal Prancis ini. Setiap kali Arsenal kalah atau terseok-seok dalam sebuah pertandingan, di radio, televisi, online dan media cetak, tema itu muncul tanpa kendat. Bahkan kalaupun Arsenal menang, jika tidak telak, pendukung Arsenal akan dengan cepat mengritik Wenger.

Delapan tahun tanpa juara memang bisa membuat orang amnesia akan betapa berjasanya manusia satu ini untuk Arsenal. Setiap kali pendukung Arsenal menjatuhkan pantat mereka di kursi stadion Emirates, dengan sudut pandang yang sama enaknya ke lapangan pertandingan, lapangan yang ideal untuk bermain bola, fasilitas pendukung stadion yang kelas satu, longgar dan nyaman, bahkan akustik stadion juga diperhitungkan untuk memaksimalkan suara nyanyian dan teriakan dukungan penonton; sudah selayaknya mereka ingat bahwa tanpa seorang Arsene Wenger, stadion itu tak akan pernah ada. Wenger-lah penggagasnya. Ia ikut merancang stadion agar bisa memberi pengalaman terbaik menonton sepakbola. Wenger bahkan ikut memberi spesifikasi ketebalan rumput agar permainan cantik bisa diperagakan.

Saya masih ingat pengalaman beberapa kali menonton pertandingan di stadion lama Arsenal, Highbury, ketika diajak teman baik bekas sekantor pemegang tiket tahunan Arsenal. Segala sesuatunya berlawanan dengan pengalaman menonton di Emirates ini. Dalam penilaian saya, stadion Emirates adalah stadion sepakbola terbaik di Inggris. Dan itu buah tangan Wenger.

Bukan itu saja. Wengerlah, walau tidak secara langsung, yang membantu penyediaan dana untuk pembangunan stadion ini. Prestasi sepakbola gemilang Arsenal selama sembilan tahun pertama keberadaannya di klub ini memberi fasilitas bagi tenaga pemasaran klub untuk mengekspolitirnya. Para sponsor saling berebut untuk diasosiasikan dengan Arsenal karena citranya: klub yang sukses dan menampilkan permainan cantik, cerdas, punya kelas tersendiri. Citra itu, adalah sumbangan terbesar Wenger bagi Arsenal. Hal lain yang harus diingat oleh pendukung Arsenal.

Wenger juga dikenal bertangan dingin untuk melihat potensi pemain muda dan mematangkannya. Betapa banyak pemain yang besar dan punya di bawah asuhan Wenger sebelum kemudian pergi melanglang sukses di lain klub. Daftarnya akan berderet. Seberapa banyak keuntungan keuangan Arsenal di dapat dengan jalan itu.

Teman baik yang sering mengajak saya menonton Arsenal adalah satu dari sedikit pemuja Wenger yang kini berbalik mengecamnya. Setiap kali saya mengajukan fakta-fakta seperti yang saya tulis di atas, ia hanya tertawa dan mengatakan saya tak memahami perasaan dan caranya berpikir sebagai pendukung Arsenal. Ia juga menyebut saya, seperti orang di luar Arsenal lainnya, termakan apa kata media. Ia selalu mempunyai jawaban ajaib untuk mementahkan apa yang saya kemukakan.

“Kamu tahu, Emirates memang stadion ideal tapi itu juga kutukan,” katanya dalam salah satu perbincangan kami.

“Sejak pindah tahun 2006, kami tak lagi ditakuti di kandang sendiri. Stadion itu tak punya nyawa, tak punya atmosfer, tak punya wibawa seperti di Highbury.”

Ia lalu menyebutnya betapa kini Arsenal sering kalah melawan klub ecek ecek di Emirates.

Bagi dia satu-satunya cara untuk menghilangkan kutukan itu adalah membuang Wenger agar kaitan antara Highbury dan Emirates bisa diputus dan memulai segala sesuatunya dari nol, kertas putih yang bersih. Ini tentu saja omong kosong dan salah satu tahayul terbesar yang pernah saya dengar. Tetapi ia yakin dengan itu.

Namun ada juga pernyataannya yang masuk akal dan saya setujui. Wenger adalah manajer yang hebat tetapi juga beruntung. Ia selalu mengingatkan saya bahwa ketika Wenger pertama kali datang ia mewarisi pemain-pemain hebat. 

“Kami pendukung Arsenal 80-an tidak pernah melupakan, ia (Wenger) mewarisi salah satu benteng pertahanan paling kokoh dalam sejarah persepakbolaan Inggris: David Seaman, Nigel Winterburn, Lee Dixon, Steve Bould, Martin Keown dan Tony Adam. Ingat mereka? Itu tinggalan George Graham.”

“Oh satu lagi. Di depan ada Ian Wright dan Denis Bergkamp. Mereka bukan pemain temuan Wenger. Kalian yang bukan pendukung Arsenal ingatnya hanya Thierry Henry, Patrick Vieira, Emmanuel Petit ataupun Robert Pires. Ya ‘kan?” tuduhnya asal-asalan.

Bahwa Wenger kemudian mampu meracik mereka dan perlahan-lahan menggantikan mereka dengan pemain-pemain baru yang tak kalah hebatnya serta menampilkan permainan yang cantik, semua pendukung Arsenal termasuk teman saya ini setuju. 

“Tetapi kami sudah membayar kesetiaan kami kepada Wenger selama delapan tahun tanpa gelar. Sudah saatnya orang lain mengambil alih dengan ide-ide baru,” tegasnya yakin. “Kalau tidak saya tidak akan memperbaharui tiket musiman untuk tahun depan.”

Namun lucunya kalau ditanya siapa yang layak menggantikan Wenger, mereka, termasuk teman saya ini kelabakan tak bisa menjawab. Mereka hanya tahu pokoknya Wenger harus diganti.

Dua hari lalu sebelum mengirim tulisan ke detik saya menelpon teman saya ini untuk sekadar bertegur sapa. Kami hanya sekali-sekali bertemu bertemu setelah saya pindah kantor. 

“Ke Munich, nggak?” iseng saya bertanya. 

“You kidding me. You’ll witness the biggest upset my friend. I promise you that. I am going. Come on Arsenal!” teriaknya menutup percakapan. 

Saya tertawa. Penggemar bola … ada-ada saja. Lupa dia akan keluh kesahnya. Lupa dia akan kekesalannya. Lupa dia akan gundah gulananya. 

 

*tulisan ini ditulis oleh yusuf Arifin di detiksport 


karena bagi mereka yang (benar-benar) mencintai olahraga kulit bundar ini, jatuh cinta dan memilih sebuah klub adalah perkara yang sakral, dan saat hati mereka sudah memilih maka jumlah trofi, siapa pemain bintangnya, dalam keadaan seburuk apa pun tim nya, tetap akan sulit untuk berpaling.

Shame On You Gunners

Persetan kebijakan pemain muda. Selisih 7 poin itu jelas jurang lebar bukti kualitas mental dan determinasi. Tua bangka keras kepala. Berapa hari yang lalu Ian Wright mungkin terdengar terlalu kasar terhadap mantan bos nya sendiri, dan itu terbukti Ian kembali menarik kritiknya dan menyuarakan dukungan. Tapi pertunjukkan sampah memuakkan di White Hart Lane tadi jadi bukti kuat untuk mendukung Ian Wright dan berteriak sekeras mungkin di telinga dari kepala sekeras batu kakek tua dari Perancis itu.

Akuisisi sajalah mungkin sebaiknya, toh gabungan konsorsium dari Qatar dan Uni Emirat Arab itu datang dengan tumpukan uang  yang akan mengakhiri segala alasan dasar kebijakan klub yang berorientasi pada penghematan dan profit. Profit my balls! Sepakbola telah berubah, dan selalu akan. Adaptasi tetap butuh dilakukan dan uang harus tetap dikeluarkan. 

Bahkan jika harus beberapa tahun lagi puasa gelar tak jadi masalah. Tapi kesabaran fans mudah terkuras habis hanya dari laga-laga menjijikkan seperti derby tadi.